Bebek2009's Blog
Just another WordPress.com weblog

ANALISIS MINYAK KAYU PUTIH

ANALISA MUTU MINYAK KAYU PUTIH

  1. ACARA

Melakukan analisa mutu minyak kayu putih berdasarkan parameter berat  jenis dan sifat kelarutan dalam alkohol

  1. TUJUAN

Mengetahui kualitas sampel minyak kayu putih berdasarkan standar mutu nasional (SNI)

  1. PRINSIP

a. Berat jenis

Prinsip dari uji berat jenis adalah membandingkan berat sampel dalam viknometer  dengan volume piknometer tersebut yang kemudian dikalikan dengan berat jenis standar air.

b. Sifat kelarutan dalam alkohol

Prinsip dari uji ini adalah sampel dilarutkan dalam larutan alkohol dengan perbandingan tertentu, kemudian diamati hasil yang dihasilkan dari pencampuran larutan tersebut dalam tabung reaksi.

F.  TINJAUAN  PUSTAKA

MINYAK  ATSIRI

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri)

Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri. (http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri)

MINYAK KAYU PUTIH

Gelam atau Kayu putih (Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron) merupakan pohon anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil). Minyak diekstrak (biasanya disuling dengan uap) terutama dari daun dan rantingnya. Namanya diambil dari warna batangnya yang memang putih.

Minyak kayu putih (cajuput oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum cajeputi) dihasilkan dari hasil penyulingan daun dan ranting kayu putih (M. leucadendra). Minyak atsiri ini dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat dikonsumsi per oral (diminum) atau, lebih umum, dibalurkan ke bagian tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung.

Minyak ini mengandung terutama eukaliptol (1,8-cineol) (komponen paling banyak, sekitar 60%), α-terpineol dan ester asetatnya, α-pinen, dan limonen. M. quinquenervia dilaporkan juga menjadi sumber minyak atsiri yang dinamakan sama. Minyak kayu putih banyak menjadi komponen dalam berbagai salep dan campuran minyak penghangat. Salep macan dan minyak telon diketahui menggunakan minyak kayu putih sebagai penyusunnya. Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di Indonesia bagian timur dan Australia bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang memiliki musim kemarau yang jelas. Minyak kayu putih mudah menguap. Pada hari yang panas orang yang berdekatan dengan pohon ini akan dapat membauinya dari jarak yang cukup jauh.

Sebagai tumbuhan industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha (agroforestri). Perhutani memiliki beberapa hutan kayu putih untuk memproduksinya. Minyak kayu putih yang diambil dari penyulingan biasa dipakai sebagai minyak balur atau campuran minyak pengobatan lain (seperti minyak telon) atau campuran parfum serta produk rumah tangga lain.

Berat Jenis

Berat jenis merupakan perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan air. Berat jenis suatu zat dapat diperoleh dengan membagi kerapatannya dengan 103 kg/m3 (kerapatan air). Berat jenis tidak memiliki dimensi.

Apabila kerapatan suatu benda lebih kecil dari kerapatan air, maka benda akan terapung. Berat jenis benda yang terapung lebih kecil dari 1. Sebaliknya jika kerapatan suatu benda lebih besar dari kerapatan air, maka berat jenisnya lebih besar dari 1. untuk kasus ini benda tersebut akan tenggelam.

Dalam minyak kayu putih tidak diperkenankan adanya minyak lemak dan minyak pelican. Minyak lemak merupakan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa, yang mungkin ditambahkan sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih. Demikian juga minyak pelican yang merupakan golongan minyak bumi seperti minyak tanah (kerosene) dan bensin biasa digunakan sebagai bahan pencampur minyak kayu putih, sehingga merusak mutu kayu putih tersebut.

Menurut SNI 06-3954-2006 Minyak Kayu Putih adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan daun dan ranting dari tanaman kayu putih (Melaleuca leucadendron).

Persyaratan mutu standar minyak kayu putih adalah sebagai berikut :

No.

Jenis uji

Satuan

Persyaratan

1. Keadaan

-         Warna

-         Bau

-

-

Jernih sampai kuning kehijauan

Khas kayu putih

2. Bobot jenis pada suhu 20oC

-

0,900 – 0,930

3. Indeks bias nD20

-

1,450 – 1,470

4. Kelarutan dalam alcohol 70%

-

1 : 1 sampai 1 : 10 jernih

5. Putaran optik

-

(-) 4 s/d 10

6. Kandungan sineol

%

50 – 65

  1. G. ALAT DAN BAHAN

Peralatan yang digunakan adalah :

  • Piknometer 50 mL
  • Neraca analitik
  • Tabung reaksi
  • Tisyu
  • Pipet ukur
  • Gelas ukur
  • Oven listrik
  • Desikator

Sedangkan bahan yang digunakan antara lain :

  • Aquades
  • Alkohol 70 %
  • Sampel minyak kayu putih

H. LANGKAH KERJA

1. Analisis berat jenis

  • Bersihkan piknometer menggunakan kertas tisyu lalu panaskan dalam oven bersuhu 100 °C selama 10 sampai dengan 15 menit
  • Keluarkan piknometer dan masukan kedalam desikator selama 15 menit
  • Timbang berat piknimeter kosong
  • Masukan sampel kedalam piknometer secara hati-hati hingga penuh
    • Tutup piknometer dengan rapat dan pastikan tak ada gelembung udara di dalam piknometer
    • Keringkan piknometer dengan tisyu
    • Timbang berat piknometer berisi sampel
    • Menghitung Berat Jenis sampel menggunakan persamaan sebagai berikut :
BJ =
X BJ standar air

Massa sampel

Volume

2. Sifat kelarutan dalam alkohol

  • Menyiapkan alat dan bahan
    • Mencampurkan larutan alkohol 70 % dengan sampel minyak kayu putih dengan perbandingan 2 : 8 (2 mL sampel dan 8 mL alkohol)
    • Mengamati hasilnya dengan kategori sebagai berikut : 1. Sampel larut sempurna jika campuran membentuk jernih dan cerah, 2. larut dengan kekeruhan jika larutan yang dihasilkan tidak sepenuhnya jernih dan cerah.
  1. I. HASIL PENGAMATAN
    1. Berat jenis minyak kayu putih

Sampel

Berat pikno meter kosong

Berat piknometer + sampel

Berat sampel

Volume piknometer

Berat jenis sampel

Minyak kayu putih

70,361 grm

73,91 grm

43,549

50 mL

0,8709

Pehitungan

Berat

BJ = ——————— X  BJ standar air

Volume

  1. Sifat kelarutan dalam alkohol
Sampel

Setelah pencampuran dengan alkohol 2 : 8

Minyak kayu putih

Kualitas B : sifatnya larut dengan kekeruhan

  1. I. PEMBAHASAN

Minyak kayu putih merupakan salah satu macam dari beberapa jenis minyak atsiri yang banyak digunakan sebagai bahan parmasi dan obat-obatan. Minyak kayu putih dihasilkan dari penyulingan daun dan ranting tanaman kayu putih ((Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron). Untuk memastikan kemurnian dari minyak kayu putih maka dilakukan beberapa pengujian laboratorium yang salah duanya dilakukan dilaboratorium pengujian mutu politeknik negeri Jember yaitu pengujian berat jenis dan pengujian sifat kelarutan dalam alkohol.

  1. Pengujian berat jenis minyak kayu putih.

Berat jenis merupakan salah satu criteria penting dala menentukan mutu dan kemurnian minyak atsiri dalam hal ini adalah minyak kayu putih. Pada umumnya, nilai BJ minyak atsiri berkisar antara 0,696 – 1,188 pada suhu 15 ºC, dan pada umumnya nilai tersebut lebih kecil dari 1,000.

Dalam penentuan berat jenis minyak kayu putih digunakan peralatan berupa pikno meter, neraca analitik, oven listrik, tisyu, dan desikator. Sedangkan sampel yang digunakan adalah sampel minyak kayu putih kemasan botol yang telah dipasarkan. Adapun tujuan dari penentuan berat jenis ini bertujuan untuk mengetahui nilain bertat jenis sampel dan menentukan kualitasnya dengan menbandingkan antara hasil pengujian dengan nilai berat jenis standar yang telah ditentukan sesuai standar nasional Indonesia (SNI).

Adapun tahapan pengujian berat jenis ini diawali dengan membersihkan piknometer dengan kertas tisyu sedemikian rupa agar tidak ada bahan selain sampel yang ikut terukur nilai BJ nya. Agar berat piknometer tidak dipengaruhi oleh kandungan air atau kelembaban udara, maka dilakukan pengeringan pikno meter dngan menggunakan oven listrik selama 10 menit pada suhu 100 ºC. selanjutnya, piknometer didinginkan dengan menggunakan desikator selama 15 menit. Untuk mengetahui berat piknometer kosong maka dilakukan penimbangan dengan menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian 4 angka desimal.

Langkah berikutnya, sampel minyak kayu putih dimasukan kedalam piknometer yang telah dikeringkan secara perlahan hingga penuh, dan yang paling terpenting adalah dimana saat penuangan kedalam piknometer harus dipastikan tidak ada gelembung udara didalamnya, karena gelembung udara dalam piknometer sangat mempengaruhi ketepatan pengukuran dan tingkat kevalidan dalam penentuan nilai berat jenis suatu sampel yang menggunakan piknometer. Setelah piknometer dipastikan penuh dan tidak ada gelembung udara didalamnya, maka piknometer segera ditutp rapat dengan tutup piknometer yang telah tersedia.

Kemudiua berikutnya, piknometer dibersihkan dengan menggunakan tisyu yang kering hingga piknometer benar-benar bersih dari sisa-sisa tumpahan disaat penuangan sampel kedalam piknometer. Untuk mengetahui berat sampel didalam piknometer, maka dilakukan penimbangan kembali menggunakan neraca analitik yang digunakan untuk penimbangan piknometer kosong sebelumnya. Hasil penimbangan dicatat dan digunakan untuk penentuan berat jenis sesuai dengan persamaan berikut :

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan di Laboratorium pengujian Politeknik Negeri Jember terhadap sampel minyak kayu putih kemasan botol, dapat diketahui bahwa  berat jenis sampel adalah 0,8709. Jika dibandingkan dengan syarat mutu SNI 06-3954-2001 tentang produk minyak kayu putih yaitu 0,9000 – 0,9300 Ternyata sampel minyak kayu putih yang dianalisis belum memenuhi syarat mutu yang disyaratkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak sesuaian ini, diantaranya adalah kemurnnian minyak yang  rendah oleh adanya campuran bahan tertentu, alat dan prosedur pengujian yang kurang standar yaitu piknometer tidak dilengkapi dengan thermostat pengukur suhu, dan pengujian dilakukan secara simplo bukan duplo yang menyebabkan rendahnya validitas pengujian.

  1. Sifat kelarutan dalam alkohol 70 %

Minysk kayu putih pada umumnya larut sempurna dalam alkohol 70 %  dan jarang mengalami kelarutan dalam air (ERNEST GUENTER 1987).  Tujuan dari penentuan sifat kelarutan ini adalah untuk mengetahui sebesar mana tingkat kemurnian sampel minyak kayu putih berdasarkan kelarutannya dalam alkohol.

Peralatan yang digunakan dalam penentuan sifat kelarutan sampel minyak kayu putih ini antara lain adalah satu buah tabung reaksi dan gelas ukur. Sedangkan bahan yang digunakan hanyalah alkohol 70 % dan sampel minyak kayu putih kemasan botol. Dalam praktikum yang telah digunakan perbandingan 2 : 8  yaitu 2 mL sampel dan 8 mL alkohol 70 %.

Pencampuran dilakukan dengan cara memasukan 2 mL sampel minyak kayu putih dengan gelas ukur kedalam tabung reaksi dan kemudian memasukan alkohol 70 % setelahnya. Untuk mendapatkan campuran yang homogen, tabung reaksi dikocok secara perlahan. Setelah beberapa saat didiamkan terlebih dahulu maka akan terjadi reaksi pelarutan di dalamnya. Setelah diamati, ternyata terbentuk kenempakan seperti gambar berikut :

Dari gambar diatas, telah dapat diketahui bahwa sifat kelarutan minyak kayu putih dalam alkohol 70 % masuk dalam criteria B yaitu larut dengan kekeruhan. kriteria tersebut menunjukan bahwa sampel yang dianalisa tidak larut sempurna dengan kata lain bahwa sampel minyak kayu putih masih belum murni 100 % dan dapat dipastikan terdapat beberapa campuran bahan non minyak atsiri didalamnya.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut dan setelah dibandingkan dengan syarat mutu SNI 06-3954-2001 dapat diketahui bahwa sampel minyak kayu putih yang dianalisis belum memenuhi syarat mutu SNI 06-3954-2001 dan masuk kedalam criteria B yaitu larut dengan kekeruhan.

Berdasarkan literatur terkait minyak atsiri dalam hal ini minyak kayu putih, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab berubahnya kelarutan minyak, diantaranga adalah kecepatan dan daya larut minyak, adanya penambahan bahan-bahan lain selain minyak atsiri, lama dan umur penyimpanan, proses polimerisasi, kondisi penyimpanan yang kurang baik, cahaya, udara, dan kadar air sampel. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebaiknya produsen atan peneliti melakukan prosedur penyulingan dan penyimpanan yang benar dan selalu menjaga kemurnian minyak kayu putih demi mencapai kualitas standar sesuai yang diinginkan.

J. KESIMPULAN

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dan dengan memahami hasil pengamatan yang telah ada, didapat jesimpulan sebagai berikut :

1)      Kualitas minyak kayu putih dapat diketahui dengan melakukan pengujian berat jenis dan sifat kelarutan dalam alkohol 70 % berdasarkan ketentuan SNI 06-3954-2001

2)      Berdasarkan uji berat jenis, sampel minyak kayu putih belum memenuhi syarat mutu SNI 06-3954-2001. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa factor diantaranya kemurnnian minyak yang  rendah oleh adanya campuran bahan tertentu, alat dan prosedur pengujian yang kurang standar yaitu piknometer tidak dilengkapi dengan thermostat pengukur suhu, dan pengujian dilakukan secara simplo, bukan duplo yang menyebabkan rendahnya validitas pengujian.

3)      Berdasarkan uji kelarutan dalam alkohol 70 %,  ternyata sampel minyak kayu putih yang dianalisis masuk dalam criteria B yaitu larut dengan kekeruhan, hal ini menunjukan bahwa sampel belum memenuhi syarat SNI 06-3954-2001. Ada beberapa factor penyebab diantaranya kecepatan dan daya larut minyak, adanya penambahan bahan-bahan lain selain minyak atsiri, lama dan umur penyimpanan, proses polimerisasi, kondisi penyimpanan yang kurang baik, cahaya, udara, dan kadar air sampel yang masih terlalu tinggi.

K. DAFTAR PUSTAKA

  • Guenther Ernest, 1987. Minyak Atsiri. Universitas Indonesia, Jakarta
  • Sudarmadji Slamet dkk, 1996. Analisis Bahan Makanan Dan Pertanian. Liberti : Yogyakarta.
  • Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan Dan Gizi Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  • AOAC, 1995. Officials Methods of Analysis of AOAC International. AOAC International USA
  • SNI 06-3954-2006 : Minyak Kayu Putih
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri

Belum Ada Tanggapan to “ANALISIS MINYAK KAYU PUTIH”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: